Gunung Semeru terletak di kota Lumajang - provinsi Jawa Timur
Legenda kuno tanah Jawa meyakini pemerintahan tertua
di tanah Jawa berada di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang Jawa Timur.
Beberapa kali, Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java,
menyebut kata-kata Semiru (Gunung Semeru).
Giling Wesi, nama pemerintahan di kaki Gunung Semeru
ini didirikan oleh Tritresta, yang juga tercacat sebagai penguasa pertama
Giling Wesi. Dalam naskah Daerah Jawa bagian Timur, Sumenep dan Bali, Nata
Kusuma, pejabat panambahan Sumenap menyusun silsilah penguasa Hindu yang
memerintah di Jawa. Silsilah tersebut cukup detail sejak tahun pertama Jawa
dengan pemerintahan Giling Wesi hingga Majapahit.
Dalam pemerintahan Giling Wesi tersebut, ada empat
masa pemerintahan yang berkuasa secara berturut-turut disebutkan antara lain
Tritresta, Watu Gunung, Gutaka dan Sawela. Legenda kuno yang disusun Nata
Kusuma seperti disebutkan dalam buku karya Raffles, menceritakan bagaimana
kisah pemerintahan Giling Wesi ini bermula. Pada mulanya, Wishnu yang menguasai
Jawa. Tritresta, putra dari Jala Pasi, dan cucu dari Brama dikirim ke Jawa
untuk menjadi penguasa di negeri itu.
Dikisahkan pula kalau Tritresta telah menikah dengan
Bramani Kali, dari Kerajaan Kamboja, dalam usia sepuluh tahun. Kedatangannya ke
pulau Jawa dan membentuk pemerintahan di Giling Wesi, di Kaki Gunung Semeru ini
disertai oleh delapan ratus keluarga dari negeri Kling (India). Tritresta
mendapat dua anak dari pernikahannya yakni Manu Manasa dan Manu Dewata. Dalam
pemerintahan Tritresta, penduduk Giling Wesi berkembang hingga 20.000 orang.
Pemerintahan Tritresta berakhir ketika dia dikalahkan
oleh Watu Gunung, dari Negeri Kling yang datang ke Giling Wesi karena tertarik
dengan ketenaran dua orang wanita, Sinta dan Landap yang ternyata dibawah
perlindungan Tritresta. Tritresta mati dan penguasa Giling Wesi digantikan oleh
Watu Gunung yang kemudian memerintah selama 140 tahun lamanya. Karena berbuat
kesalahan, Watu Gunung mendapat hukuman mati dari Dewa Wishnu.
Kemudian dikirimkan oleh Batara Guru, Gutaka dari
Gunung Sawela Chala di Negeri Kling untuk menjadi penguasa Giling Wesi. Gutaka
mati setelah berkuasa selama lima puluh tahun dan digantikan oleh anaknya
Sawela. Tidak diceritakan bagaimana akhir dari pemerintahan di Giling Wesi, di
kaki Gunung Semeru itu. Sementara itu, Koordinator Masyarakat Peduli
Peninggalan Majapahit Timur, Mansur Hidayat menyatakan, Semeru itu pernah
disebutkan dalam prasasti Ranu Gumbolo pada tahun 1182.
Prasasti Ranu Gumbolo menjadi bukti fisik kalau Semeru
pernah dikunjungi Kameswara, Raja Kediri yang tengah melakukan perjalanan
ritual ke Ranu Gumbolo, di lereng Gunung Semeru. Semeru juga disebutkan dalam
Prasasti Pasrujambe, di Kabupaten Lumajang. “Daerah itu dulu merupakan padepokan
dan tempat tinggal resi,” katanya. Lokasinya tepatnya di Dusun Munggir.
“Dulu ditempati seorang Brahmana,” katanya. Resi Pasopati, penyebar Hindu di
Tanah Jawa disebut-sebut muksa di Gunung Semeru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar