Selasa, 30 Oktober 2012

Kerajaan Lamajang Dipimpin Sang Arsitek Nusantara


Lumajang - Dalam prasasti mulan malurung dengan angka tahun 1177 Saka (1255 Masehi), Lumajang dibawah kerajaan Singhasari dengan diutusnya Oleh Wisnu Wardana yakni Narariya Kirana, tapi Lumajang bukan sebuah kerajaan kecil yang harus tunduk. Namun Lumajang, menjadi kerajaan besar dan disegani sejak dipimpin Aria Wiraraja, karena dikenal sang Arsitek Nusantara


Informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kadiri tahun 1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit. Dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari. 

Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi bupati Sumenep. Wiraraja menerima mutasi itu dengan senang hati. Dia yang mengetahui kalau Jayakatwang bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel atau Singhasari


Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibu kota Singhasari. Kertanagara tewas di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri dan menjadi raja di sana.



Persekutuan Aria Wiraraja dengan Raden Wijaya

Menantu Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengungsi ke Sumenep meminta perlindungan Aria Wiraraja setelah singhari ditaklukan oleh Jayakatwang. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadhiri yang kini berpusat di Singhasaru. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan TarikTarik, Sidoarjo menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.


Pada tahun 1293 datang tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri asalkan ia terlebih dahulu dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang. Maka bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibu kota Kadiri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa.

Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya, pasukan Mongol datang atas undangan Wiraraja untuk membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri, dengan imbalan dua orang putri sebagai istri kaisar Mongol. Kisah tersebut hanyalah ciptaan si pengarang yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Dari berita Cina diketahui tujuan kedatangan pasukan Mongol adalah untuk menaklukkan Kertanagara penguasa Jawa.


Jabatan Aria Wiraraja di Majapahit

Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit yang merdeka tahun 1293. Dari prasasti Kudadu (1294) diketahui jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Pada prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja sudah tidak lagi dijumpai.

Penyebabnya ialah pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan Majapahit sebelah timur dengan ibu kota di Lumajang.


Kemerdekaan Majapahit Timur (Kerajaan Lamajang)

Dalam kitab Pararatin Pararaton menyebutkan pada tahun 1316 terjadi perlawanan Nambi di Lumajang terhadap Jayanagara raja kedua Majapahit. Pasalnya, Nambi dihasut oleh Mahapatih dan dilaporkan ke Jayangera kalau hendak melakukan pemberontakan saat mengunjungi ayahnya yang meninggal di Lamajang.

Nambi yang tidak tahu akan diserang oleh Jayangera dengan seluruh pasukan Majapahit Barat kaget. Demi menjaga dan mencintai tanah kelahirannya, Nambi melawan Jayanegara bersama senopatine Lamajang. Ketidaksiapkan Nambi dan orang Lamajang, membuat Nambi tewas di Pajarakan yang kini rumah di Candi Agung Randuagung.

Sedangkan Pasukan Lamajang bertahan habis-habisan di Kotarajanya di Sungai Bondoyudo. Pasukan Mojopahit tidak berhasil menaklukan SItus Biting yang merupakan sisa kotaraja Lamajang.

Didalam Kidung Sorandaka mengisahkan perlawanan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang bernama Pranaraja. Sedangkan, Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut Nambi adalah putra Wiraraja. Menurut prasasti Kudadu (1294) Pranaraja tidak sama dengan Wiraraja. "Soal siapa ayah nambi atau Ranggalawe, apakah Wiraraja, masih perlu penelitian lebih lanjut,' kata Mansur Hidayat, Sejarawan Lumajang.

Dia mengatakan, Berdasarkan analisis Slamet Muljana menggunakan bukti prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan (dalam bukunya, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, 1979), Wiraraja lebih tepat sebagai ayah Ranggalawe dari pada ayah Nambi. Tidak diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas, setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah Wiraraja atau penggantinya) bergabung dengan Nambi dan terbunuh oleh serangan pasukan Majapahit Barat.

"Lumajang memiliki sejarah yang hebat, sayang belum dibukukan, semoga sewaktu saat ada buku sejarah tentang Lamajang,' pungkasnya.


   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar