Lumajang - Dalam prasasti mulan malurung dengan angka tahun 1177 Saka (1255 Masehi), Lumajang dibawah kerajaan Singhasari dengan diutusnya Oleh Wisnu Wardana yakni Narariya Kirana, tapi Lumajang bukan sebuah kerajaan kecil yang harus tunduk. Namun Lumajang, menjadi kerajaan besar dan disegani sejak dipimpin Aria Wiraraja, karena dikenal sang Arsitek Nusantara
Informasi
yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, Aria Wiraraja atau Banyak Wide
adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kadiri tahun
1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit. Dalam Kidung Panji Wijayakrama dan
Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan
demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari.
Wiraraja
pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran
supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar
tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah
serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibu kota Singhasari. Kertanagara tewas
di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri
dan menjadi raja di sana.
Persekutuan Aria Wiraraja dengan Raden Wijaya
Menantu Kertanagara yang bernama
Raden Wijaya mengungsi ke Sumenep meminta perlindungan Aria Wiraraja setelah
singhari ditaklukan oleh Jayakatwang. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi
pada Narasingamurti kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang
pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia
berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua,
yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.
Mula-mula Wiraraja menyarankan
agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadhiri yang kini berpusat di
Singhasaru. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh
Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan TarikTarik,
Sidoarjo menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu.
Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman
Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.
Pada tahun 1293 datang tentara
Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan
tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri
asalkan ia terlebih dahulu dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang. Maka
bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibu kota Kadiri. Setelah Jayakatwang
kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa.
Menurut Kidung Panji Wijayakrama
dan Kidung Harsawijaya, pasukan Mongol datang atas undangan Wiraraja untuk
membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri, dengan imbalan dua orang putri
sebagai istri kaisar Mongol. Kisah tersebut hanyalah ciptaan si pengarang yang
tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Dari berita Cina diketahui tujuan
kedatangan pasukan Mongol adalah untuk menaklukkan Kertanagara penguasa Jawa.
Jabatan Aria Wiraraja di Majapahit
Raden Wijaya menjadi raja pertama
Majapahit yang merdeka tahun 1293. Dari prasasti Kudadu (1294) diketahui
jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri
Arya Wiraraja Makapramuka. Pada prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja
sudah tidak lagi dijumpai.
Kemerdekaan Majapahit
Timur (Kerajaan Lamajang)
Dalam kitab Pararatin Pararaton
menyebutkan pada tahun 1316 terjadi perlawanan Nambi di Lumajang terhadap
Jayanagara raja kedua Majapahit. Pasalnya, Nambi dihasut oleh Mahapatih dan
dilaporkan ke Jayangera kalau hendak melakukan pemberontakan saat mengunjungi
ayahnya yang meninggal di Lamajang.
Nambi yang tidak tahu akan
diserang oleh Jayangera dengan seluruh pasukan Majapahit Barat kaget. Demi
menjaga dan mencintai tanah kelahirannya, Nambi melawan Jayanegara bersama
senopatine Lamajang. Ketidaksiapkan Nambi dan orang Lamajang, membuat Nambi
tewas di Pajarakan yang kini rumah di Candi Agung Randuagung.
Sedangkan Pasukan Lamajang
bertahan habis-habisan di Kotarajanya di Sungai Bondoyudo. Pasukan Mojopahit
tidak berhasil menaklukan SItus Biting yang merupakan sisa kotaraja Lamajang.
Didalam Kidung Sorandaka
mengisahkan perlawanan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang
bernama Pranaraja. Sedangkan, Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut Nambi
adalah putra Wiraraja. Menurut prasasti Kudadu (1294) Pranaraja tidak sama
dengan Wiraraja. "Soal siapa ayah nambi atau Ranggalawe, apakah Wiraraja,
masih perlu penelitian lebih lanjut,' kata Mansur Hidayat, Sejarawan Lumajang.
Dia mengatakan, Berdasarkan
analisis Slamet Muljana menggunakan bukti prasasti Kudadu dan prasasti
Penanggungan (dalam bukunya, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, 1979),
Wiraraja lebih tepat sebagai ayah Ranggalawe dari pada ayah Nambi. Tidak
diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas,
setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit
bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah Wiraraja
atau penggantinya) bergabung dengan Nambi dan terbunuh oleh serangan pasukan
Majapahit Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar