Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di
kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga .Asal Usul utama serat jangka Jayabaya
dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas
bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg
membuat ramalan-ramalan tersebut.
"Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang
gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."
Asal-usul
Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan
Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini
sebenarnya hanya satu, yakni Kitab
Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang
kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5
tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosariyang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan
sumber ini sudah sejak zamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).
Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari
buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang
dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang
seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya
kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat
Demak. Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat
mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya
SangBrawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru,
Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan
Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.
Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga
Keraton Kartasura tatkala zamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya
sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit,
Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll.
Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, GubernurJenderalnya benama van Outhoorn yang
memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706),
Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di
Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629
Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.
Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang
Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi
tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa
Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669
Jawa (1744 M).
Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be
Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada zamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta.
Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni
Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran
Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta
diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672
Jawa = 1747 M.
Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan
dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar"
Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga
menyebut nama baru itu.
Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara
Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak zaman purbakala hingga
jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam
pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton". Giri Kedaton ini
nampaknya Merupakan zaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang
berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai
Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam
di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai zaman Sunan
Giri ke-3.
Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir
karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden
Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta
kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden
Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih
lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah
sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah
kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke
tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan
Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi
setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar,
yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.
Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa
baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro
Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak
kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram
ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini
ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa
di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.
Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa
kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali
kewibawaannya, justru nanti dizaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini
berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai
raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada
tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang
menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628
& 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).
Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan
pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan
cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin
Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas
titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja
Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga
(Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "JANGKA
JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha
dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya
sebelumnya dalam bentuk babad.
Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan
diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber
semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.
Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai zaman
keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika
kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah
negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "REPUBLIK
INDONESIA"!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa
mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga
terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.
Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan
benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang
Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan
munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya
bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi
teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka
atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan
historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.
Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab
Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi,
plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka
Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun
1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu
menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.
Kitab Musasar
Jayabaya
Asmarandana
1. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu
Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang
berani.
2. Beliau sakti sebab titisan Batara
wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
3. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya
putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat
raharja negara-nya.
4. Hal tersebut menggembirakan Sang
Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja
pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.
5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen.
Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita
lain bangsa pantas dihormati.
6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen
berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai
Kitab Musarar.
7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali
lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan
dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.
8. Sang Prabu segera menjadi murid sang
Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat
tinggal menitis 3 kali.
9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang
Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan
kutbah,
10. Senjata ecis itu yang bernama
Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara
sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
11. Raja Pandita pamit dan musnah dari
tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil
putranya.
12. Setelah sang putra datang lalu diajak
ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.
13. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata.
Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara
Wisnu..
14. Karenanya Sang Prabu sangat waspada,
tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita
gaib.
15. Bila Islam seperti Nabi. Prabu
Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung
Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
16. Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah
duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni
isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.
17. Jadah (ketan) setakir, bawang putih
satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang,
sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.
18. Kedelapan endang seorang. Kemudian ki
Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang
Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.
19. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga
endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena
takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.
20. Sang putra akan bertanya merasa takut.
Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan
putranya.
21. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar
yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen
tatkala masih muda.
Sinom
1. Dia itu sudah diwejang (diberitahu)
oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji,
musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3
kali lagi.
2. Bila sudah menitis tiga kali kemudian
ada zaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak
mungkin berobah lagi. Diberi lambang zaman Catur semune segara asat.
3. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan
Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi.
Menghancurkan keburukan.
4. Setelah 100 tahun musnah keempat
kerajaan tersebut. Kemudian ada zaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya
sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
5. Di dalam teken sang guru Maolana
Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada zaman Anderpati
yang bernama Kala-wisesa.
6. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune
liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata
negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.
7. Sebab berperang dengan saudara. Hasil
bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki
Ajar. Kemudian berganti zaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.
8. Demikian nama raja bergelar Sang
Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun).
Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.
9. Hidangannya Jadah satu takir.
Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti zaman
lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya
bergelar Diyati Kalawisaya.
10. Enam puluh lima tahun kemudian musnah.
Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat
berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.
11. Negara tersebut diberi lambang:
Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti zaman
Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh
anaknya. 36 tahun kemudian musnah.
12. Negara ini diberi lambang: cangkrama
putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar
dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti zaman di
Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.
13. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan
perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya
Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
14. Raja perkasa tetapi berbudi halus.
Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih
dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.
15. Kemudian berganti lagi dengan lambang:
Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan
diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab
melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
16. Berdagang di tanah Jawa kemudian
mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga
terpandang di pulau Jawa. zaman sudah berganti meskipun masih keturunan
Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.
17. Raja berpasukan campur aduk. Disegani
setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya
brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama
kemudian berganti.
18. Nama rajanya Lung gadung rara
nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan
suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang
disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga
tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.
19. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang
anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara
geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam
bencana yang tidak dapat ditolak.
20. Negara rusak. Raja berpisah dengan
rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti zaman Kutila. Rajanya
Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune
Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).
21. Nakhoda(Orang asing)ikut serta
memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak
ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian
diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu
yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).
22. Tidak berkesempatan menghias diri(Raja
yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan
), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali
Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang
mengerti/memahami lambang tersebut.
23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya.
Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat
makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah
kesengsaraan negara.
24. Hukum dan pengadilan negara tidak
berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap
salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang
melupakan Tuhan dan orang tua.
25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab
saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir.
Kemudian ada tanda negara pecah.
26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan
salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa
berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
27. Kemudian kelak akan datang Tunjung
putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi).
Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia,
bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam
persidangan.
28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton
dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan
menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung
Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal
sedunia.
29.Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya
diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik
sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.
Isi Ramalan
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran ---
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang
--- Perahu berjalan
di angkasa.
5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya
wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
7. Bumi saya suwe saya mengkeret
--- Bumi semakin
lama semakin mengerut.
8. Sekilan bumi dipajeki ---
Sejengkal tanah dikenai pajak.
9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka
makan sambal.
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang ---
Orang perempuan berpakaian lelaki.
11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni
wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak
ditepati.
13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe---
Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
14. Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang
saling lempar kesalahan.
15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli
akan hukum Hyang Widhi.
16. Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat
dijunjung-junjung.
17. Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.
18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak
orang hanya mementingkan uang.
19. Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
20. Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
21. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa
saudara.
22. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
23. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak
berani melawan ibu.
24. Nantang bapa--- Menantang ayah.
25. Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara
saling khianat.
26. Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling
curiga.
27. Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.
28. Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa
asal-usul.
29. Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak
pejabat jahat dan ganjil
31. Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak
ulah-tabiat ganjil
32. Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang
baik justru tersisih.
33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa
isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
34. L uwih utama ngapusi --- Lebih
mengutamakan menipu.
35. Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.
36. Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.
37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake
duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk
durhaka.
38. Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang)
benar termangu-mangu.
39. Wong salah bungah --- Orang (yang) salah
gembira ria.
40. Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik
ditolak ditampik (diping-pong).
41. Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang)
jahat naik pangkat.
42. Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia
dilecehkan
43. Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat
dipuji-puji.
44. Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan
hilang malu.
45. Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki
hilang jiwa kepemimpinan.
46. Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak
laki-laki tak mau beristri.
47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone---
Banyak perempuan ingkar pada suami.
48. Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu
menjual anak.
49. Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak
perempuan menjual diri.
50. Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang
gonta-ganti pasangan.
51. Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan
menunggang kuda.
52. Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki
naik tandu.
53. Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang
(Red.: seuang = 8,5 sen).
54. Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.
55. Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda
pincang laku sembilan uang.
56. Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang
berdagang ilmu.
57. Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku
diri.
58. Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
59. Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku
suci, tapi palsu belaka.
60. Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak
muslihat.
61. Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
62. Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
63. Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan
bayi.
64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne---
Banyak anak lahir mencari bapaknya.
65. Agama akeh sing nantang--- Agama banyak
ditentang.
66. Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan
semakin hilang.
67. Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
68. Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan
lacur dimana-mana.
72. Anak mangan bapak---Anak makan bapak.
73. Sedulur mangan sedulur---Saudara makan
saudara.
74. Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
75. Guru disatru---Guru dimusuhi.
76. Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.
77. Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin
menjadi-jadi.
78. Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu
terkena beban.
79. Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu
disalahkan.
80. Besuk yen ana peperangan---Kelak jika
terjadi perang.
82. Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang
baik makin sengsara.
83. Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat
makin bahagia.
84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul---
Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
85. Wong salah dianggep bener---Orang salah
dipandang benar.
87. Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
88. Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik
pangkat.
89. Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu
dibelenggu.
90. Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia
dipenjara.
91. Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.
92. Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
93. Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
94. Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak
merajalela.
95. Akeh barang haram---Banyak barang haram.
96. Akeh anak haram---Banyak anak haram.
97. Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan
melamar laki-laki.
98. Wong lanang ngasorake drajate
dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
99. Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang
terbuang-buang.
100. Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak
orang lapar dan telanjang.
101. Wong tuku ngglenik sing
dodol---Pembeli membujuk penjual.
102. Sing dodol akal okol---Si penjual
bermain siasat.
103. Wong golek pangan kaya gabah
diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
104. Sing kebat kliwat---Yang tangkas
lepas.
105. Sing telah sambat---Yang terlanjur
menggerutu.
106. Sing gedhe kesasar---Yang besar
tersasar.
107. Sing cilik kepleset---Yang kecil
terpeleset.
108. Sing anggak ketunggak---Yang congkak
terbentur.
109. Sing wedi mati---Yang takut mati.
110. Sing nekat mbrekat---Yang nekat
mendapat berkat.
111. Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil
tertindih
112. Sing ngawur makmur---Yang ngawur
makmur
113. Sing ngati-ati ngrintih---Yang
berhati-hati merintih.
114. Sing ngedan keduman---Yang main gila
menerima bagian.
115. Sing waras nggagas---Yang sehat
pikiran berpikir.
116. Wong tani ditaleni---Orang (yang)
bertani diikat.
117. Wong dora ura-ura---Orang (yang)
bohong berdendang.
118. Ratu ora netepi janji, musna
panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
119. Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi
menjadi rakyat.
120. Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil
jadi priyayi.
121. Sing mendele dadi gedhe---Yang curang
jadi besar.
122. Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
123. Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak
rumah di punggung kuda.
124. Wong mangan wong---Orang makan
sesamanya.
125. Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
126. Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa
ketuaan mereka.
127. Pedagang adol barang saya
laris---Jualan pedagang semakin laris.
128. Bandhane saya ludhes---Namun harta
mereka makin habis.
129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe
pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe
sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
131. Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa
bersolek.
132. Sing bengkong bisa nggalang
gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
133. Wong waras lan adil uripe nggrantes
lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134. Ana peperangan ing njero---Terjadi
perang di dalam.
135. Timbul amarga para pangkat akeh sing
padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
136. Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan
makin merajalela.
137. Penjahat saya tambah---Penjahat makin
banyak.
138. Wong apik saya sengsara---Yang baik
makin sengsara.
139. Akeh wong mati jalaran saka
peperangan---Banyak orang mati karena perang.
140. Kebingungan lan kobongan---Karena
bingung dan kebakaran.
141. Wong bener saya thenger-thenger---Si
benar makin tertegun.
142. Wong salah saya bungah-bungah---Si
salah makin sorak sorai.
143. Akeh bandha musna ora karuan
lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat
ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah
haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
146. Bejane sing lali, bejane sing
eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147. Nanging sauntung-untunge sing
lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
148. Isih untung sing waspada---Masih lebih
beruntung si waspada.
149. Angkara murka saya ndadi---Angkara
murka semakin menjadi.
150. Kana-kene saya bingung---Di sana-sini
makin bingung.
151. Pedagang akeh alangane---Pedagang
banyak rintangan.
152. Akeh buruh nantang juragan---Banyak
buruh melawan majikan.
153. Juragan dadi umpan---Majikan menjadi
umpan.
154. Sing suwarane seru oleh
pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
155. Wong pinter diingar-ingar---Si pandai
direcoki.
156. Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
157. Wong ngerti mangan ati---Orang yang
mengerti makan hati.
158. Bandha dadi memala---Hartabenda
menjadi penyakit
159. Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi
pemukau.
160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang
--- Yang sewenang-wenang merasa menang
161. Sing ngalah rumangsa kabeh
salah---Yang mengalah merasa serba salah.
162. Ana Bupati saka wong sing asor
imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
163. Patihe kepala judhi---Maha menterinya
benggol judi.
164. Wong sing atine suci dibenci---Yang
berhati suci dibenci.
165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya
derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166. Pemerasan saya ndadra---Pemerasan
merajalela.
167. Maling lungguh wetenge mblenduk
--- Pencuri duduk berperut gendut.
168. Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas
pikulan.
169. Maling wani nantang sing duwe
omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
170. Begal pada ndhugal---Penyamun semakin
kurang ajar.
171. Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.
172. Wong momong mitenah sing diemong---Si
pengasuh memfitnah yang diasuh
173. Wong jaga nyolong sing dijaga---Si
penjaga mencuri yang dijaga.
174. Wong njamin njaluk dijamin---Si
penjamin minta dijamin.
175. Akeh wong mendem donga---Banyak
orang mabuk doa.
176. Kana-kene rebutan unggul---Di
mana-mana berebut menang.
177. Angkara murka ngombro-ombro---Angkara
murka menjadi-jadi.
178. Agama ditantang---Agama ditantang.
179. Akeh wong angkara murka---Banyak orang
angkara murka.
180. Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan
durhaka.
181. Ukum agama dilanggar---Hukum agama
dilanggar.
182. Prikamanungsan
di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
183. Kasusilan ditinggal---Tata susila
diabaikan.
184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan
akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
185. Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat
kecil banyak tersingkir.
186. Amarga dadi korbane si jahat sing
jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe
prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
188. Lan duwe prajurit---Dan punya
prajurit.
189. Negarane ambane saprawolon---Lebar
negeri seperdelapan dunia.
190. Tukang mangan suap saya
ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
191. Wong jahat ditampa---Orang jahat
diterima.
192. Wong suci dibenci---Orang suci
dibenci.
195. Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.
196. Wong dosa sentosa---Orang berdosa
sentosa.
197. Wong cilik disalahake---Rakyat jelata
dipersalahkan.
198. Wong nganggur kesungkur---Si
penganggur tersungkur.
199. Wong sregep krungkep---Si tekun
terjerembab.
200. Wong nyengit kesengit---Orang busuk
hati dibenci.
201. Buruh mangluh---Buruh menangis.
202. Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.
203. Wong wedi dadi priyayi---Orang takut
jadi priyayi.
204. Senenge wong jahat---Berbahagialah si
jahat.
205. Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat
kecil.
206. Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang
saling tuduh.
207. Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah
manusia semakin tercela.
208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara
endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih
dan disukai.
209. Wong Jawa kari separo---Orang Jawa
tinggal setengah.
210. Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal
sepasang.
211. Akeh wong ijir, akeh wong
cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
212. Sing eman ora keduman---Si hemat tidak
mendapat bagian.
213. Sing keduman ora eman---Yang mendapat
bagian tidak berhemat.
214. Akeh wong mbambung---Banyak orang
berulah dungu.
215. Akeh wong limbung---Banyak orang
limbung.
216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking
zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.
Bait Terakhir Ramalan Jayabaya
140. polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati
141. banjir
bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti
142. pancen
wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali
isih beja kang eling lan
waspadha
143. ratu
ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu
144. sing
edan padha bisa dandan
sing ambangkang padha bisa
nggalang omah gedong magrong-magrong
145. wong
dagang barang sangsaya laris, bandhane ludes
akeh wong mati kaliren gisining panganan
akeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara
146. wong
waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe
147. bumi
sangsaya suwe sangsaya mengkeret
sakilan bumi dipajeki
wong wadon nganggo panganggo lanang
iku pertandhane yen bakal nemoni
wolak-walike zaman
148. akeh
wong janji ora ditepati
akeh wong nglanggar sumpahe dhewe
manungsa padha seneng ngalap,
tan anindakake hukuming Allah
barang jahat diangkat-angkat
barang suci dibenci
149. akeh
wong ngutamakake royal
lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale
150. ukuman
ratu ora adil
akeh pangkat jahat jahil
kelakuan padha ganjil
sing apik padha kepencil
akarya apik manungsa isin
luwih utama ngapusi
151. wanita
nglamar pria
isih bayi padha mbayi
sing pria padha ngasorake drajate dhewe
Bait 152 sampai dengan 156 hilang
157. wong
golek pangan pindha gabah den interi
sing kebat kliwat, sing kasep kepleset
sing gedhe rame, gawe sing cilik keceklik
sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati
nanging sing ngawur padha makmur
sing ngati-ati padha sambat kepati-pati
158. cina
alang-alang keplantrang dibandhem nggendring
melu Jawa sing padha eling
sing tan eling miling-miling
mlayu-mlayu kaya maling kena tuding
eling mulih padha manjing
akeh wong injir, akeh centhil
sing eman ora keduman
sing keduman ora eman
159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
bakal ana dewa ngejawantah
apengawak manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking zaman
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar
utang nyawa bayar nyawa
utang wirang nyaur wirang
160.
sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa
ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener
lawase pitung bengi,
parak esuk bener ilange
bethara surya njumedhul
bebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lantur\
ku tandane putra Bethara Indra wus katon
tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa
161.
dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan
wetane bengawan banyu
andhedukuh pindha Raden Gatotkaca
arupa pagupon dara tundha tiga
kaya manungsa angleledha
162. akeh
wong dicakot lemut mati
akeh wong dicakot semut sirna
akeh swara aneh tanpa rupa
bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis
tan kasat mata, tan arupa
sing madhegani putrane Bethara Indra
agegaman trisula wedha
momongane padha dadi nayaka perang
perange tanpa bala
sakti mandraguna tanpa aji-aji
163.
apeparap pangeraning prang
tan pokro anggoning nyandhang
ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang
sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang
164. putra
kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin setan
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
165.
pendhak Sura nguntapa kumara
kang wus katon nembus dosane
kadhepake ngarsaning sang kuasa
isih timur kaceluk wong tuwa
paringane Gatotkaca sayuta
166. idune
idu geni
sabdane malati
sing mbregendhul mesti mati
ora tuwo, enom padha dene bayi
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada
garis sabda ora gentalan dina,
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa
nanging inung pilih-pilih sapa
167.
waskita pindha dewa
bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira
pindha lahir bareng sadina
ora bisa diapusi marga bisa maca ati
wasis, wegig, waskita,
ngerti sakdurunge winarah
bisa pirsa mbah-mbahira
angawuningani jantraning zaman Jawa
ngerti garise siji-sijining umat
Tan kewran sasuruping zaman
168. mula
den upadinen sinatriya iku
wus tan abapa, tan bibi, lola
awus aputus weda Jawa
mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk
gegawe pati utawa utang nyawa
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda
169. sirik
den wenehi
ati malati bisa kesiku
senenge anggodha anjejaluk cara nistha
ngertiyo yen iku coba
aja kaino
ana beja-bejane sing den pundhuti
ateges jantrane kaemong sira sebrayat
170. ing
ngarsa Begawan
dudu pandhita sinebut pandhita
dudu dewa sinebut dewa
kaya dene manungsa
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandhang
171. aja
gumun, aja ngungun
hiya iku putrane Bethara Indra
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
hiya siji iki kang bisa paring pituduh
marang jarwane jangka kalaningsun
tan kena den apusi
marga bisa manjing jroning ati
ana manungso kaiden ketemu
uga ana jalma sing durung mangsane
aja sirik aja gela\ iku dudu wektunira
nganggo simbol ratu tanpa makutha
mula sing menangi enggala den leluri
aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu
beja-bejane anak putu
172. iki
dalan kanggo sing eling lan waspada
ing zaman kalabendu Jawa
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa
cures ludhes saka braja jelma kumara
aja-aja kleru pandhita samusana\
arinen pandhita asenjata trisula wedha
iku hiya pinaringaning dewa
173.
nglurug tanpa bala
yen menang tan ngasorake liyan
para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula
angagem trisula wedha
para pandhita hiya padha muja
hiya iku momongane kaki Sabdopalon
sing wis adu wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang
nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandane kalabendu wis minger
centi wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya
padha asung bhekti
daftar pustaka:
Alan
H. Feinstein.1994. Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm. 276-280.